PEMBAHASAN SOAL UN KIMIA 2019

Soal dapat diunduh pada link di bawah ini

KUNCI JAWABAN

1D
2C
3D
4B
5B
6D
7D
8C
9B
10E
11D
12A
13E
14D
15A
16C
17D
18E
19E
20B
21C
22A
23D
24E
25A
26B
27D
28C
29B
30B
31B
32C
33A
34A
35D
36B
37E
38E
39E
40B

Adapun pembahasannnya (nomor 1-40) dapat diunduh di sini:

Berikut adalah review pembahasan soal nomor 1-10
PENJELASAN
1. Dalam perkembangannya, terdapat 5 teori model atom yakni:
Model atom Dalton
Teori ini menyatakan bahwa atom merupakan kesatuan terkecil yang tidak dapat dibagi-bagi lagi.
Kelemahan:
Teori ini adalah teori yang paling sederhana sekaligus memiliki paling banyak kelemahan karena tidak dapat menjelaskan keadaan zat yang memiliki muatan serta aliran listrik yang terjadi pada zat dari muatan positif ke muatan negatif
Model atom Thompson
teori ini menyatakan bahwa atom merupakan bola padat bermuatan positif dengan partikel-partikel negatif tersebar di sekelilingnya.
Kelemahan:
Teori ini memang mampu menjelaskan keadaan zat yang memiliki muatan, namun tidak mampu menjelaskan mengapa atom memiliki energi sehingga mampu menghasilkan energi listrik.
Model atom Rutherford
Teori ini menyatakan bahwa setiap atom mengandung inti bermuatan positif dengan elektron yang mengelilinginya dalam lintasannya di mana di antara inti dan elektron tersebut terdapat ruang hampa yang merupakan bagia terbesar dari atom.
Kelemahan:
Teori ini memang mampu menjelaskan baik keadaan atom yang bermuatan maupun kemampuan atom menghasilkan energi listrik, namun teori ini mengabaikan aspek fisika yakni setiap benda yang bergerak membutuhkan energi dan suatu saat ketika energi tersebut habis makan benda tersebut pun akan berhenti bergerak. Namun kenyataannya, elektron di lintasan atom bergerak tanpa henti tanpa kehabisan energi.
Model atom Bohr
Dikenal juga sebagai model atom hidrogen di mana atom terdiri dari inti atom dan elektron yang bergerak mengelilinginya di dalam lintasannya, mirip dengan model atom Rutherford, hanya saja pada bagian intinya terdapat dua jenis partikel yakni proton yang bermuatan positif dan neutron yang tidak bermuatan, serta elektron mengelilingi inti atom berdasarkan tingkat energi tertentu di mana elektron akan berpindah lintasan yang lebih luar ketika menyerap energi dan berpindah ke lintasan yang lebih dalam ketika melepaskan energi.
Keunggulan
Mampu menjelaskan dengan baik mengenai spektrum atom hidrogen
Mampu menjelaskan dengan baik mengenai tingkat-tingkat energi atom hidrogen
Kelemahan:
Tidak dapat menerangkan pengaruh medan magnet terhadap spektrum atom
Tidak dapat menerangkan struktur atom berelektron banyak (hanya mampu menjelaskan struktur atom hidrogen)
Teori mekanika kuantum
Merupakan penyempurnaan dari teori atom Bohr yang mampu menjelaskan pengaruh medan magnet terhadap spektrum atom.
Dari soal, dapat terlihat dengan jelas bahwa model tersebut adalah model atom Bohr yakni model atom yang mampu menjelaskan dengan baik mengenai spektrum atom hidrogen yang memiliki dua kelemahan utama seperti yang telah dipaparkan di atas.
JAWAB: D. 2 dan 4
2. Ingat baik-baik bahwa:
Ar = (massa atom)/(1/12 massa atom C-12) dan Mr = (massa molekul)/(1/12 massa atom C-12)
NB: Ar = massa atom relatif dan Mr = massa molekul relatif
Sehingga:
Ar P = (massa atom P)/(1/12 massa atom C-12) = (6,64 .〖10〗^(-23) gram)/(1/12.1,992.〖10〗^(-23) gram) = (6,64 .〖10〗^(-23))/(1/12.1,992.〖10〗^(-23) )
JAWAB: C. (6,64 .〖10〗^(-23))/(1/12.1,992.〖10〗^(-23) )
3. Ingat bahwa
(_a^z)N: N adalah simbol unsur, a adalah nomor atom yang menyatakan jumlah proton, dan z adalah nomor massa yang menyatakan massa atom (jumlah proton + jumlah neutron)
(_35^80)K memiliki jumlah proton = 35 dan jumlah neutron = 80 – 35 = 45 (pernyataan A salah)
(_12^24)L memiliki jumlah proton = 12 dan jumlah neutron = 24 – 12 = 12 (pernyataan B salah)
(_30^65)M memiliki jumlah proton = 30 dan jumlah neutron = 65 – 30 = 35 (pernyataan C salah)
(_18^40)N memiliki jumlah proton = 18 dan jumlah neutron = 40 – 18 = 22
(_16^32)O memiliki jumlah proton = 16 dan jumlah neutron = 32 – 16 = 16 (pernyataan E salah)
Kemungkinan jawaban tersisa 1 yakni D, namun mari kita bahas lebih lanjut. Mengenai konfigurasi elektronnya menggunakan aturan aufbau:
Atom N netral sehingga jumlah proton = jumlah elektron yakni 18 sehingga konfigurasi elektronnnya: 1s22s22p63s23p6
Ingat aturan penggolongan unsur: IA : elektron valensi ns1 IIIB : elektron valensi ns2(n-1)d1
IIA : elektron valensi ns2 IVB : elektron valensi ns2(n-1)d2
IIIA : elektron valensi ns2np1 VB : elektron valensi ns2(n-1)d3
IVA : elektron valensi ns2np2 VIB : elektron valensi ns2(n-1)d4
VA : elektron valensi ns2np3 VIIB : elektron valensi ns2(n-1)d5
VIA : elektron valensi ns2np4 VIIIB : elektron valensi ns2(n-1)d6, ns2(n-1)d7, atau ns2(n-1)d8
VIIA : elektron valensi ns2np5 IB : elektron valensi ns2(n-1)d9
VIIIA : elektron valensi ns2np6 IIB : elektron valensi ns2(n-1)d10
Lantanida : elektron valensi 6s24fn
Aktinida : elektron valensi 7s25fn
Adapun periode ditentukan oleh nomor kulit terbesar
Dari konfigurasinya, terlihat bahwa atom L terletak pada periode 3 golongan VIIIA
JAWAB: D. N
4. (_24^52)Y memiliki nomor atom = 24. Konfigurasi elektron pada keadaan dasar berarti mengacu pada keadaan netral di mana jumlah elektron = jumlah proton = nomor atom = 24. Konfigurasi elektronnya seharusnya: 1s22s22p63s23p64s23d4
Namun, kita harus mengingat aturan penuh/setengah penuh di mana orbital yang terisi oleh elektron secara penuh atau setengah penuh lebih stabil daripada orbital kosong. Jadi ketimbang pengisian orbitalnya seperti di atas, lebih cenderung ke 1s22s22p63s23p64s13d5
Namun mesti diingat bahwa aturan penuh hanya berlaku untuk 4 konfigurasi yakni:
1s22s22p63s23p64s23d4 menjadi 1s22s22p63s23p64s13d5
1s22s22p63s23p64s23d9 menjadi 1s22s22p63s23p64s13d10
1s22s22p63s23p64s23d44p65s24d4 menjadi 1s22s22p63s23p64s23d44p65s14d5
1s22s22p63s23p64s23d44p65s24d9 menjadi 1s22s22p63s23p64s23d44p65s14d10
Adapun untuk konfigurasi golongan VIB dan IB yang lebih bawah (mengandung sekat f/orbital f di konfigurasinya), aturan ini tidak berlaku.
Jawab: B. 1s22s22p63s23p64s13d5
5. Hukum Dalton: perbandingan jumlah unsur dalam suatu senyawa adalah berupa bilangan bulat dan sederhana (missal AxBy, maka x dan y adalah bilangan bulat)
Hukum Gay-Lussac: perbandingan jumlah volume gas-gas pereaksi dan hasil reaksi adalah berbanding dengan bilangan bulat dan sederhana jika diukur pada suhu dan tekanan tetap (misal aA + bB  cC, maka a, b, dan c adalah bilangan bulat)
Hukum Avogadro: perbandingan jumlah molekul sama dengan perbandingan jumlah volumenya pada suhu dan tekanan tetap (N_1/N_2 = V_1/V_2 )
Hukum Lavoisier: jumlah zat sebelum dan setelah reaksi adalah sama (penyetaraan reaksi)
Hukum Proust: setiap senyawa selalu memiliki perbandingan massa unsur penyusun yang tetap (baik terdapat 1 gram, 100 gram, maupun 1 ton senyawa AxBy, perbandingan massa unsur A dan B penyusunnya adalah selalu sama)
Sekarang kembali ke soal, pertama-tama reaksi disetarakan menjadi N2(g) + 3H2(g)  2NH3(g). Setiap reaksi 1 L gas N2 dan 3 L gas H2 akan selalu menghasilkan 2 L gas NH3. Ini sesuai dengan hukum Gay-Lussac
Jawab: B. Hukum Gay-Lussac
6. Cara rumus praktis:
M = 10ρP/Mr sehingga P = (M.Mr)/10ρ =(16,43 M . 63 gram/mol)/(10.1,643 gram/mL) = 63 %
Cara defenisi:
Ingat bahwa 16,43 M berarti terdapat 16,43 mol dalam 1 L larutan (16,43 mol/L). Massa molekul relatifnya adalah 63 gram/mol yang berarti tiap 1 mol memiliki massa 63 gram sehingga jika ada 16,43 mol, berarti massanya dalam 1 L larutan adalah 16,43x63 gram
Massa jenis larutan adalah 1,643 gram/mL yang berarti bahwa massa larutan sebesar 1,643 gram tiap 1 mL larutan, jadi jika larutannya ada sebanyak 1 L (1000 mL), maka massa larutannya adalah 1,643x1000 gram
kadar larutan berarti perbandingan massa zat terlarut terhadap larutannya, jadi kadar larutannya adalah (16,43x63 gram)/(1,643x1000 gram) = 0,63. Jika dinyatakan dalam persen berarti 0,63x100 % = 63 %
Jawab: D. 63,00 %
7. HNO3 + NH3  NH4NO3
Dik: g HNO3 = 12,6 gram
Mr HNO3 = Ar H + Ar N + 3ArO = 1 + 14 + (3x16) = 63 gram/mol
n HNO3 = (g HNO_3)/(Mr HNO_3 ) = (12,6 gram)/(63 gram/mol) = 0,2 mol
Dik: VSTP NH3 = 2,24 L
N NH3 = (VSTP NH3)/(22,4 L/mol) = (2,24 L)/(22,4 L/mol) = 0,1 mol
HNO3 + NH3  NH4NO3
M: 0,2 mol 0,1 mol
R: 0,1 mol 0,1 mol 0,1 mol (NB: NH3 sebagai pereaksi pembatas)
A: 0,1 mol - 0,1 mol
Sehingga dihasilkan 0,1 mol NH4NO3
Mr NH4NO3 = 2ArN + 4ArH + 3ArO = (2x14)+(4x1)+(3x16) = 80 gram/mol
g NH4NO3 = n NH4NO3 x Mr NH4NO3 = 0,1 mol x 80 gram/mol = 8 gram
Jawab: D. 8 gram
8. M = 10ρP/Mr = (10.1 g/mL.10 %.)/(127 g/mol) = 0,79 M = 7,9.10-1 M = 79.10-2 M
Jawab: C. 79.10-2 M
9. Berikut adalah pasangan mineral dan kandungan unsurnya yang benar:
Mineral Unsur
Siderite Besi
Barite Barium
Kalkosit Tembaga dan belerang
Kriolit Aluminium
Pirit Besi dan belerang
Jawab: B. 1 dan 3
10. Pada pengolahan bijih besi, kokas berfungsi sebagai reduktor yang mereduksi ion Fe3+ pada bijih besi menjadi logam Fe. Adapun batu kapur berfungsi sebagai bahan imbuh (flux) yakni sebagai bahan suplai agar terdapat karbon berlebih sehingga reaksi reduksi ion Fe3+ menjadi atom Fe dapat menjadi lebih optimal. Reaksi ini berlangsung di dalam tanur (furnace) pada suhu tinggi yang berbeda-beda pada tiap tahapannya mulai dari 700 – 1800 oC.
Jawab: E. 3 dan 4
JERAWAT
Jerawat atau yang dalam bahasa latin disebut dengan Propionibacterium acnes adalah gangguan pada kulit akibat produksi minyak berlebih pada kulit. Hal tersebut menyebabkan peradangan akibat penyumbatan pada folikel rambut yakni tempat tumbunya rambut. Peradangan ditandai dengan munculnya benjolan kecil yang terkadang disertai dengan nanah di atas kulit. Ganggguan kulit ini biasa terjadi di bagian kulit dengan kelenjar minyak yang besar yakni di bagian wajah, leher, bagian atas dada, dan punggung.
Pada usia remaja, jerawat lebih sering terjadi pada pria dibanding wanita, sedangkan pada usia dewasa, justru sebaliknya. Umumnya, masa puncak terjadinya jerawat terjadi pada usia 14 – 17 tahun untuk pria dan dan 16 – 19 tahun untuk wanita.
Selain produksi minyak berlebih, jerawat juga dapat dipicu oleh hormon, faktor genetik, bakteri, stress, dan penggunaan kosmetik. Untuk meminimalisir terjadinya jerawat, dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan wajah, hindari menggosok wajah dengan kain yang berpermukaan kasar, segera mandi setelah beraktivitas, hindari memencet jerawat, dan bersihkan wajah hingga betul-betul bersih setelah memakai kosmetik.

Contoh Soal Statistika Pendidikan Jurusan PGMI IAIN Sultan Amai Gorontalo Semester 4


1. Perhatikan ke-14 data tunggal di bawah ini: (30 poin)
70,70,52,13,44,88,55,69,24,70,81,67,78,36
Tentukan rentang data, varians, dan simpangan baku dari data tunggal tersebut!
2. Berikut ini adalah data dari nilai-nilai y yang diperoleh untuk nilai-nilai x tertentu (keterangan: untuk n = 7, r(α5 %) = 0,754): (40 poin)
x: 1,2,3,4,5,6,7
y: 2,5,8,14,16,20,22
a Tentukanlah angka korelasi (r)-nya kemudian tentukan apakah x berkorelasi terhadap y, dan jika berkorelasi, tentukan bagaimana korelasinya, apakah berbanding lurus (korelasi positif) atau berbanding terbalik (korelasi negatif)!
b Tentukanlah koefisien korelasi (R2) dari data tersebut kemudian tentukan taraf kepercayaan data atau seberapa besar x mempengaruhi y!
c Tentukanlah nilai slope, intercept, dan persamaan regresinya!
d Ramalkanlah kira-kira pada nilai x=20, berapakah nilai y-nya?
e Ramalkanlah pada nilai x berapa, nilai y akan mencapai nilai 220?
3. Perhatikan ke-35 data tunggal di bawah ini (sudah terurut): (30 poin)
22,26,30,41,44,45,47,48,50,51,51,55,58,58,60,60,61,63,65,67,67,68,69,69,71,72,78,79,79,80,83,84,90,91,98
Tentukan apakah datanya terdistribusi normal atau tidak! (Log 35 = 1,544)

BIOSENSOR ELEKTROKIMIA

MAKALAH
KIMIA INSTRUMEN




BIOSENSOR ELEKTROKIMIA





DISUSUN OLEH

SUHENDRA ISKANDAR (H311 08 266)

MEITY JOLANDA KAROMA (H311 08 262)

AHMAD FADEL (H311 08 270)
















JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2011
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI….…………………………………………………………………………...i
BAB 1. PENDAHULUAN………………………………………………………………..1
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA…………………………………………………………2
BAB III. PENUTUP……………………………………………………………………….5
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………..6



BAB I
PENDAHULUAN

Biosensor elektrokimia sebagai bagian dari sensor kimia merupakan sensor kimia yang banyak diteliti dan dikembangkan oleh para ilmuwan. Biosensor elektrokimia sendiri didefinisikan sebagai suatu perangkat sensor yang menggabungkan senyawa biologi dengan suatu tranduser yang terbuat dari detektor elektrokimia. Dalam proses kerjanya, senyawa aktif biologi akan berinteraksi dengan molekul yang akan dideteksi yang disebut analit. Hasil interaksi yang berupa besaran fisik seperti panas, arus listrik, potensial listrik, atau lainnya akan dimonitor oleh transduser. Besaran tersebut kemudian diproses sebagai sinyal oleh signal processor elektronik sehingga diperoleh hasil yang dapat dimengerti.
Dewasa ini telah banyak dikembangkan biosensor elektrokimia karena keunggulannya yang dapat mendeteksi suatu analit secara spesifik layaknya sensor lain namun berharga relatif murah dibandingkan dengan sensor yang lain. Biosensor elektrokimia ini diharapkan di masa yang akan datang mampu menggantikan alat-alat sensor yang berharga sangat mahal.
Meninjau hal yang demikian, maka sangatlah perlu untuk mendalami dalam mempelajari biosensor elektrokimia. Berikut pada makalah ini akan dikaji mengenai prinsip kerja, bagian-bagian alat, dan manfaat pada kehidupan mengenai biosensor elektrokimia ini.







BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Biosensor adalah suatu alat untuk mendeteksi keberadaan analit dengan menggabungkan komponen biologis dan komponen fisika yang melibatkan reaksi-reaksi biokimia. Biosensor pada prinsipnya terdiri dari tiga bagian utama, yakni (Aviga, 2010):
1. Elemen biologi, seperti enzim, asam nukleat, atau antibodi yang sensitif terhadap keberadaan analit.
2. Transduser atau elemen detektor, seperti detektor elektrokimia, pizoelektrik, atau optik, yang mengubah sinyal yang dihasilkan dari interaksi analit dengan unsur biologis (panas, arus listrik, potensial listrik, dan lain-lain) ke sinyal lain yang dapat lebih mudah diukur dan dihitung (sinyal elektrik).
3. Signal processor elektronik, yang terutama bertanggung jawab untuk memperkuat sinyal untuk menampilkan hasil.
Biosensor elektrokimia adalah biosensor yang menggunakan detektor elektrokimia pada transdusernya. Biosensor elektrokimia biasanya didasarkan pada katalisis enzimatik dari suatu reaksi yang memproduksi elektron. Substrat sensor biasanya berisi empat elektroda yakni elektroda acuan, elektroda aktif, elektroda tenggelam, dan elektroda sumber ion. Analit target yang terlibat dalam reaksi yang terjadi pada permukaan elektroda aktif dan ion-ion yang diproduksi menciptakan sebuah potensial yang memberikan sinyal. Kita dapat mengukur arus di potensial yang tetap di mana kuat arus sebanding dengan konsentrasi analit. Biosensor elektrokimia adalah biosensor yang sangat sensitif untuk jenis-jenis analit tertentu tergantung pada komponen-komponen biosensornya dan oleh karena itu sering digunakan (Aviga, 2010).
Elemen biologi pada biosensor elektrokimia biasanya dalam bentuk terimmobilisasi. Immobilisasi sendiri dapat dilakukan dengan berbagai cara, yakni (Suryana, 2010) :
1. Adsorpsi fisik.
2. Dengan menggunakan membran atau perangkap matriks.
3. Dengan membuat ikatan kovalen antara biomolekul dengan transduser.
Transduser pada biosensor elektrokimia ada yang menghasilkan sinyal berupa arus listrik dan ada pula yang menghasilkan sinyal berupa potensial listrik. Salah satu contoh biosensor elektrokimia yang terkenal adalah biosensor glukosa darah untuk monitoring penyakit diabetes mellitus di mana sinyal yang dihasilkan di transdusernya berupa arus listrik. Prinsip kerjanya yakni FAD (sebuah komponen dari enzim) mengoksidasi analit berupa larutan glukosa sehingga analit tersebut melepaskan dua elektron di mana oksidatornya sendiri yakni FAD tereduksi menjadi FADH2. Selanjutnya, larutan glukosa tereduksi kembali oleh elektroda dengan menerima dua elektron dalam beberapa langkah. Teroksidasinya glukosa menimbulkan arus listrik di mana kuat arusnya bergantung pada konsentrasi larutan glukosa (analit). Dalam kasus ini, elektroda adalah transduser dan enzim adalah komponen aktif biologis (Aviga, 2010).
Biosensor elektrokimia tidak hanya mempunyai jenis yang menghasilkan sinyal berupa arus listrik di transdusernya. Ada pula biosensor elektrokimia yang menghasilkan sinyal berupa potensial listrik di transdusernya. Salah satu contohnya adalah biosensor elektrokimia ESI-H2PO4- tipe tabung untuk deteksi anion H2PO4-. Berbeda dengan biosensor elektrokimia yang menghasilkan sinyal di transdusernya berupa arus listrik, biosensor elektrokimia yang menghasilkan sinyal di transdusernya berupa potensial listrik hanya terdiri dari dua elektroda yakni elektroda pembanding dan elektroda indikator. Ada dua jenis elektroda indikator, yaitu elektroda indikator logam dan elektroda indikator membran atau elektroda selektif ion. Biosensor elektrokimia ESI-H2PO4- tipe tabung sendiri memiliki elektroda indikator berupa elektroda selektif ion. Biosensor elektrokimia yang menggunakan elektroda selektif ion sekarang ini telah digunakan secara luas untuk pengukuran yang sederhana dan cepat dan ion-ion dari logam terutama dalam lingkungan dan klinik (Selpa, 2010).
Prinsip pengukuran dengan elektroda selektif ion adalah sebagai berikut. Potensial yang terukur adalah beda potensial antara elektroda selektif ion dengan potensial elektroda pembanding. Potensial yang dihasilkan oleh sel tergantung pada potensial yag dihasilkan oleh elektroda kerja. Pada umumnya, digunakan garam-garam yang tidak memberikan gangguan dalam pengukuran. Dalam larutan yang sangat encer, harga koefisien keaktifan mendekati 1 (ai = Ci) sehingga kedua garis akan saling berimpit. Jika pengukuran dilakukan dengan kekuatan ion yang sama, maka diharapkan larutan memiliki koefisien selektifitas yang sama, sehingga potensial sel yang terukur merupakan refleksi dari konsentrasi analit (Sokalski dkk., 1999).
Biosensor elektrokimia telah dipergunakan secara luas di berbagai bidang kehidupan. Misalnya pada bidang medis dan farmasi dipergunakan untuk mengontrol penyakit, diagnosis, studi efisiensi obat, dan lain-lain. Pada bidang medis untuk kontrol polusi, monitoring senyawa-senyawa toksik di udara, air, atau tanah, penentua BOD, dan lain-lain. Pada bidang pertanian untuk mengontrol kualitas tanah, mendeteksi keberadaan pestisida, dan lain-lain.





BAB III
PENUTUP

Biosensor elektrokimia memiliki sensitifitas yang tinggi namun berbiaya relatif tidak terlalu mahal, maka biosensor elektrokimia ini sangat berpotensial untuk dikembangkan di masa mendatang.


















DAFTAR PUSTAKA

Aviga, 2010, Biosensor, (http://www.doktermuda.com, diakses pada tanggal 1 Mei 2011 pukul 12.31 WITA).

Selpa, 2010, Skripsi Pembuatan ESI-H2PO4- Tipe Elektroda Tabung sebagai Sensor Potensiometrik untuk Deteksi Anion H2PO4- di Pelabuhan Tanjung Ringgit Kota Palopo.

Sokalski, T., Ceresa, A., Fibbioli, M., Zwickl, T., Bakker, E., dan Pretsch, 1999, Lowering the Detection Limit of Solvent Polymeric Ion-Selective Electodes 2 Influence of Compostion of Sample and Internal Electrolyte Solution, Anal. Chem., 71, 1210-1214.

Suryana, A., 2010, Biosensor, (http://www.warnadunia.com, diakses pada tanggal 1 Mei 2011 pukul 12.00 WITA.

Cara Ion Logam Non Esensial Meracuni Tubuh dan Treatmentnya

Ada 3 (tiga) cara suatu ion logam dapat meracuni tubuh. Pertama, blocking situs aktif biomolekul. Melalui mekanisme ini, suatu biomolekul menjadi tidak aktif sisi aktifnya sehingga tidak dapat menjalankan fungsinya karena terblocking oleh suatu ion logam (ion logam berikatan dengan situs aktif biomolekul). Karena kebanyakan situs aktif biomolekul berupa ligan soft seperti sulfuhidril (-SH), maka kebanyakan ion logam yang memblocking situs aktif berupa logam soft (konsep HSAB di mana logam soft berikatan kuat dengan ligan soft, dan logam hard berikatan kuat dengan ligan hard), seperti Hg2+, Pb2+, dan lain-lain. Kedua, memodifikasi struktur molekul. Mekanisme ini terjadi di mana suatu ion logam terikat pada biomolekul bukan pada sisi aktifnya yang mana ion logam berikatan kovalen koordinasi dengan atom S, N, maupun O pada biomolekul sehingga menyebabkan putusnya beberapa ikatan hidrogen pada biomolekul yang menyebabkan berubahnya struktur biomolekul sehingga terjadi deaktivasi fungsi biomolekul ini (Ingat bahwa bentuk biomolekul tertentu untuk dapat menjalankan fungsinya,ketika bentuknya berubah, maka tidak dapat lagi menjalankan fungsi yang sebagaimana mestinya, makanya suatu enzim misalnya sama ion pusatnya tetapi ligan biomolekulnya berbeda, maka berbeda pula perannya dalam fisiologis, misalnya hemoglobin dan peroksidase sama-sama ion pusatnya Fe2+ tetapi berbeda ligan biomolekulnya, maka ketika O2 masuk ke tubuh, hemoglobin akan mengubahnya menjadi O2- sementara peroksidase mengubahnya menjadi H2O2). Ketiga, menginhibisi suatu ion esensial di tubuh. Berbeda dengan cara pertama dan kedua, cara yang ketiga ini hanya dapat terjadi pada konsentrasi ion logam toksik yang sangat tinggi di dalam tubuh. Misalnya pada enzim karbonat anhidrase yang berperan mempercepat pelepasan CO2 dari dalam darah yang mana tanpa enzim ini, hanya 1 - 2 % saja CO2 yang dapat dilepaskan oleh darah sekali siklus. Hal ini tentu akan menyebabkan kematian karena darah akan mengandung CO2 melimpah sehingga tidak dapat memperoleh O2. Enzim ini memiliki ion pusat Zn2+. Ketika di dalam tubuh terdapat Cd2+ yang melimpah, maka Zn2+ dalam enzim karbonat anhidrase ini akan tersubstitusi oleh Cd2+. Ukuran Cd2+ ini lebih besar daripada Zn2+ sehingga enzim lebih mudah diserang oleh nukleofilik sehingga enzim bisa terhidrolisis dan menjadi tidak aktif. Selain itu, Cd2+ ini juga dapat mensubstitusi Ca2+ pada tulang. Karena ukuran Cd2+ ini lebih besar daripada Ca2+, maka tentu saja akan mendesak struktur tulang dari dalam (ruang yang tersedia yang sebelumnya ditempati Ca2+ tidak cukup besar untuk Cd2+) sehingga menyebabkan perih yang amat sangat di tulang seperti yang terjadi di Lembah Jintsu Jepang yang terkenal di Indonesia dengan sebutan penyakit itai-itai. Ada banyak lagi contoh inhibisi ion logam toksik di tubuh, seperti inhibisi As5+ pada P5+ ATP, inhibisi Pb2+ pada Ca2+ tulang atau Fe2+ porfirin. Treatment Untuk mekanisme cara pertama dan kedua, dapat diobati dengan memberikan agen pengkelat yang dapat berikatan dengan ion logam toksik lebih kuat daripada gugus-gugus biomolekul. Beberapa di antaranya yang terkenal adalah British Anti Lewisite (BAL) (CH2SH-CHSH-CH2OH) yang sebelumnya diciptakan untuk mengatasi keracunan gas Lewisite (R1R3C=CR2AsCl2) yang diciptakan oleh Jerman pada perang dunia I. Tetapi BAL ini juga dapat menangani beberapa keracunan ion logam lain. Namun, untuk Hg2+ dan Cd2+, BAL tidak dapat menangani efek toksiknya karena kompleks Hg2+ dan Cd2+ yang dihasilkan dengan BAL mengendap (Ingat bahwa untuk mengatasi toksisitas ion logam, ion logam harus dapat terlepas dari biomolekul tubuh dan dapat terlarut dalam pelarut tubuh (air) sehingga dapat dikeluarkan tubuh). Oleh karena itu, untuk kedua ion logam ini digunakan unithiol (CH2SH-CHSH-CH2SO3Na) yang dapat larut dengan kompleksnya terhadap Hg2+ dan Cd2+. Selain itu, senyawa yang juga tidak kalah populernya yaitu Na4EDTA atau H4EDTA. Untuk mekanisme cara ketiga, ditreatment dengan menggunakan ion esensial yang tersubstitusi oleh ion logam toksik tadi dalam jumlah melimpah. Misalnya, keracunan akibat inhibisi ion Ca2+ oleh ion Pb2+ atau Cd2+ pada tulang dapat ditreatment dengan penyuntikan ion Ca2+. Biasanya digunakan Na2CaEDTA karena di samping ion Ca2+nya dapat mensubstitusi kembali ion Pb2+ atau Cd2+, juga dapat mengkelatkan ion-ion logam toksik ini dan larut serta dibawa oleh pelarut tubuh keluar tubuh. Cara ini cukup efektif untuk keracunan ion Pb2+ namun kurang efektif nyatanya untuk keracunan ion Cd2+.

Model HbO2 Weiss dalam menjelaskan kediamagnetikan HbO2

samapi saat ini, ada banyak model HbO2 yang telah dipaparkan oleh para ahli. Dua di antaranya yang terkenal adalah model yang dikemukakan Pauling dan Weiss. Hal yang paling mendasar yang membedakan kedua model ini adalah bahwa Pauling beranggapan bahwa tingkat energi elektron phi*Px dan phi*Py molekul O2 setara dengan orbital eg pada Fe2+. Sedangkan Weiss beranggapan bahwa berdasarkan dengan konsep elektronegatifitas, maka tingkat energi phi*Px dan phi*Py seharusnya lebih rendah karena O lebih sangat elektronegatif daripada Fe sehingga seharusnya bukan degenerate dengan eg tetapi dengan t2g. Namun, model HbO2 Weiss ini mempunyai elektron tidak berpasangan pada phi*Px yang tidak mengalami mixing (hibridisasi) serta pada sigma* dari mixing orbital phi*Py terhadap sebuah orbital t2g. Tampaknya, masalah kediamagnetikan HbO2 lebih tepat dijelaskan oleh model Pauling di mana tidak ada satupun elektron yang tidak berpasangan pda orbital molekulnya. Namun, untuk banyak hal, model Weisslah yang lebih memenuhi. Adapun bagaimana Weiss menjelaskan kediamagnetikan HbO2 adalah bahwa Fe2+ melepaskan sebuah elektron singletnya tersebut menjadi Fe3+ dan O yang memiliki elektron singlet pada O2 menangkap elektron singlet ini. Oleh protonasi ion H+ yang dilepaskan dari kompleks protein yang terikat pada Hb akibat untuk menyeimbangi perubahan biloks ion pusat Fe2+ menjadi Fe3+ ini, kedua elektron singlet itu kemudian berubah spinnya dari double singlet menjadi berpasangan. Walau bagaimanapun, fakta membuktikan bahwa kompleks HbO2 hanya menunjukkan keseluruhannya bersifat diamagnetik di bawah suhu 50 K. Adapun di atas suhu tersebut, telah terdapat komples HbO2 yang bersifat paramagnetik.

Enzim Oksidoreduktase

Enzim Oksidoreduktase adalah enzim yang berfungsi untuk memediai suatu reaksi oksidasi-reduksi di tubuh yang terdiri dari dua jenis, yakni : 1. Electron Carrier (Pembawa elektron). Suatu enzim oksidoreduktase digolongkan ke dalam kelompok ini jika dalam memediai reaksi redoks, hanya terjadi secara outersphere sehingga tidak terjadi perubahan stabilitas ligan-ligan yang besar selama reaksinya. Hal ini terjadi jika koordinasi ion pusat penuh (tidak terdapat keadaan entatic) sehingga enzim tidak pernah ketempatan substrat, yakni hanya memediai reaksi redoks dengan cara transfer elektron pada orbital t2g-nya. Contoh enzim jenis ini adalah kompleks sitokrom c, feredoksin (suatu kluster 2Fe-2S), dan plastosianin. 2. Pusat Reaksi Redoks. Suatu enzim oksidoreduktase digolongkan ke dalam kelompok ini jika dalam memediai reaksi redoks terjadi secara innersphere sehingga terjadi perubahan stabilitas yang besar pada ligan-ligan selama reaksinya. Enzim yang bertindak sebagai pusat reaksi redoks memberikan tempat fisik untuk terjadinya reaksi redoks yang melibatkan pemutusan dan penyambungan ikatan ligan (biasanya melibatkan orbital eg). Oleh karena itu, gangguan stabilitas ligan-ligan yang ditimbulkan besar. Ada pula jenis enzim ini yang berada dalam entatic state. Entatic state adalah bentuk senyawa kompleks yang tidak stabil karena mempunyai koordinasi kosong tetapi bentuk tidak stabil ini dipertahankan. Bentuk tidak sabil ini dapat dipertahankan jika salah satu ligan yang terikat pada senyawa kompleks ini memiliki bentuk molekul yang sangat besar sehingga memberikan efek sterik besar yang mencegah ligan terakhir ion pusat senyawa kompleks ini diisi oleh ligan luar selain ligan substrat yang sesuai. Contoh enzim jenis ini adalah hemoglobin (sitokrom b), sitokrom P450, dan peroksidase.

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA KELOMPOK 3, 4, 5, dan 6 PERCOBAAN 9 LAJU REAKSI Kamis, 2 dan 9 April 2012

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA
KELOMPOK 3, 4, 5, dan 6
PERCOBAAN 9 LAJU REAKSI
Kamis, 2 dan 9 April 2012


1.Pada reaksi A + B  P, turunkan persamaan laju dari reaksi tersebut! (5 %)
2.Apa perbedaan mendasar antara kinetika kimia dan laju reaksi? (10 %)
3.Apa fungsi penambahan larutan CH3COONa pada percobaan mengukur laju reaksi iodinasi aseton? (5 %)
4.Tuliskan dan jelaskan 5 faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi! (8 %)
5.Terangkan dengan gambar bagaimana :
a.Titrasi yang baik (4 %)
b.Homogenisasi yang baik dengan labu ukur (4 %)
c.Pengambilan bahan yang baik dengan pipet volume (4 %)
6.Apa yang dimaksud dengan katalis, orde reaksi, orde semu, dan reaksi elementer! (10 %)
7.Tuliskan secara lengkap reaksi pada percobaan :
a.I2 dilarutkan dalam KI (5 %)
b.Aseton + I2 (dalam suasana asam) (5 %)
c.I2 + Na2S2O3 ¬(5 %)
8.Diketahui reaksi berjalan dalam 4 tahap sebagai berikut :
Tahap 1 : A + B  C + D (cepat)
Tahap 2 : C + Z  E + F (cepat)
Tahap 3 : E  G + B (lambat)
Tahap 4 : G + D  H (cepat)
Reaksi total : A + Z  F + H (cepat)
Tentukan persamaan lajunya! (4 %)
9.Pada keadaan awal dibutuhkan 28,7 mL larutan sodium tiosulfat 0,1 M untuk bereaksi dengan I2 pada 25 mL larutan yang dipipet dari sampel dengan penambahan 1 mL indikator amilum dan 10 mL natrium asetat. Sementara pada pemipetan 25 mL larutan dari sampel setelah I2 pada sampel bereaksi dengan aseton pada suasana asam selama 10 menit diperlukan 2,5 mL larutan sodium tiosulfat 0,1 M untuk bereaksi dengannya dengan penambahan volume amilum dan natrium asetat yang sama pada keadaan awal. Tentukan laju reaksi iodinasi aseton! (Nyatakan dalam M/s) (15 %)
10.a. Apa yang dimaksud dengan koordinat reaksi? (3 %)
b.Pada koordinat reaksi terdapat keadaan transisi dan keadaan intermediet. Jelaskan apa yang dimaksud dengan keadaan transisi dan keadaan intermediet serta pada keadaan yang mana di antara keduanya yang dapat ditemukan reaksi antara yang dapat diisolasi? (3 %)
11.Nilai x1 s.d. x5 diketahui secara berurutan adalah 2, 4, 6, 8, dan 10. Adapun nilai y1 s.d y5 juga diketahui secara berurutan yakni 5,2725; 8,1334; 11,5267; 14,0928; dan 18,0086. Tentukan nilai y regresi, intercept, slope, dan persamaan garis linear dari x vs y dengan menggunakan rumus manual! (5 %)
12.Tentukan pula nilai y regresi, intercept, slope, dan persamaan garis linear dari x vs y di atas dengan menggunakan alat hitung otomatis! (5 %)

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA KELOMPOK 1 DAN 2 PERCOBAAN 9 LAJU REAKSI Kamis, 19 Maret 2012

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA
KELOMPOK 1 DAN 2
PERCOBAAN 9 LAJU REAKSI
Kamis, 19 Maret 2012


1.Pada reaksi A + B  P, turunkan persamaan laju dari reaksi tersebut! (10 %)
2.Apa perbedaan mendasar antara kinetika kimia dan laju reaksi? (5 %)
3.Apa fungsi penambahan larutan CH3COONa pada percobaan mengukur laju reaksi iodinasi aseton? (7 %)
4.Tuliskan dan jelaskan 5 faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi! (8 %)
5.Terangkan dengan gambar bagaimana :
a.Titrasi yang baik (5 %)
b.Homogenisasi yang baik dengan labu ukur (5 %)
c.Pengambilan bahan yang baik dengan pipet volume (5 %)
6.Apa yang dimaksud dengan orde reaksi, orde semu, dan reaksi elementer? (5 %)
7.Tuliskan secara lengkap reaksi pada percobaan :
a.I2 + KI (5 %)
b.Aseton + I2 (dalam suasana asam) (5 %)
c.I2 + Na2S2O3 ¬(5 %)
8.Apa yang akan terjadi jika iodin dalam bentuk padatlah yang direaksikan dengan aseton dan dalam suasana basa? Tuliskan reaksinya! (5 %)
9.Pada keadaan awal dibutuhkan 26,6 mL larutan sodium tiosulfat 0,01 M untuk bereaksi dengan I2 pada 10 mL larutan yang dipipet dari sampel dengan penambahan 1 mL indikator amilum dan 10 mL natrium asetat. Sementara pada pemipetan 10 mL larutan dari sampel setelah I2 pada sampel bereaksi dengan aseton pada suasana asam selama 50 menit diperlukan 11,4 mL larutan sodium tiosulfat 0,01 M untuk bereaksi dengannya dengan penambahan volume amilum dan natrium asetat yang sama pada keadaan awal. Tentukan laju reaksi iodinasi aseton! (Nyatakan dalam M/s) (15 %)
10.Nilai x1 s.d. x5 diketahui secara berurutan adalah 2, 4, 6, 8, dan 10. Adapun nilai y1 s.d y5 juga diketahui secara berurutan yakni 4,5866; 7,0198; 9,4423; 12,5147; dan 15,1001. Tentukan nilai y regresi, intercept, slope, dan persamaan garis linear dari x vs y dengan menggunakan rumus manual! (10 %)
11.Tentukan pula nilai y regresi, intercept, slope, dan persamaan garis linear dari x vs y di atas dengan menggunakan alat hitung otomatis! (5 %)
Cari MSDS Iodin dalam KI, CH3COONa, H2SO4, aseton, amilum, dan Na2S2O3
TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA
KELOMPOK 3 DAN 4
PERCOBAAN 1 PENENTUAN KERAPATAN DAN BOBOT JENIS
Senin, 12 Maret 2012

1.Apa perbedaan mendasar antara kerapatan, bobot jenis, massa jenis, dan berat jenis? (10 %)
2.Sebenarnya, mengapa kita perlu untuk menentukan kerapatan dan bobot jenis suatu bahan atau dengan kata lain apa manfaat yang diperoleh dengan mengetahui kerapatan dan bobot jenis suatu bahan? (7 %)
3.Jelaskan pengertian presisi dan akurasi di dalam pengukuran! (7 %)
4.Dalam penelitian yang memerlukan pengukuran kerapatan dan bobot jenis, lebih sering digunakan piknometer daripada neraca Westphal.
a.Tuliskan kelemahan utama neraca Westphal sehingga kurang umum digunakan! (8 %)
b.Tetapi keberadaan neraca Westphal masih tetap dipertahankan karena ada beberapa kondisi di mana neraca Westphal masih lebih baik digunakan dibandingkan dengan piknometer. Jelaskan kapan neraca Westphal lebih tepat digunakan dibandingkan alat ukur kerapatan dan bobot jenis lain seperti piknometer! (8 %)
5.Gambarlah neraca Westphal dan piknometer lengkap dengan keterangan bagian alatnya beserta dengan fungsi bagian-bagian alat tersebut! (16 %)
6.Tuliskan dimensi dan satuan dari besaran kerapatan dan bobot jenis! (8 %)
7.Apakah kerapatan dan bobot jenis termasuk besaran intensif atau ekstensif? Jelaskan! (6 %)
8.Seorang anak professor iseng mengambil piknometer 25 mL milik ayahnya untuk menentukan tekanan 100 m di bawah permukaan air laut. Dia mengambil sampel air laut dengan cara menciduk air laut di permukaannya. Setelah penimbangan yang dilakukan oleh anak itu diperoleh data massa piknometer kosong = 36,7126 gram, massa piknometer + akuades = 58,3921 gram (suhu 29 oC, dtaq (29 oC) = 0,9959 g/cm3), dan massa piknometer + sampel = 71,6285 gram (suhu 25,4 oC , dtaq(26 oC)= 0,9968 g/cm3).
a)Dengan menggunakan data yang diperoleh oleh anak itu, tentukan tekanan 100 m di bawah permukaan air laut tersebut tanpa memperhatikan kaidah-kaidah yang telah kalian pelajari di fisika dan kimia karena maklum anak ini masih duduk di bangku SD sehingga belum terlalu memahami konsep fisika dan kimia dengan baik! (po=1,01 x 105 Pa, g = 9,80665 m/s2) (5 %)
b)Sebenarnya, ada kesalahan prinsip dasar dalam pengukuran yang dilakukan oleh anak itu (maklum masih SD)! Kalian yang sudah duduk di perguruan tinggi tentunya akan lebih memahami hal ini. Jelaskan kesalahan prinsip dasar yang dilakukan oleh anak itu! (5 %)
9.Suatu larutan D ingin ditentukan densitas dan gravitas spesifiknya dengan menggunakan piknometer. Diperoleh data sebagai berikut :
No..Nama Contoh..Bbt Piknometer Ksng (g)..Bbt Piknometer + Cnth (g)..Suhu(oC)
1.....Akuades...........................41,1144.............................66,0547.......................22,7
2........D..............................41,1144.............................68,9991.......................22
Jika diketahui dtaq (22,7 oC) = 0,9976 gram/mL dan dtaq (22 oC) = 0,9978 gram/mL, tentukan densitas dan gravitas spesifik dari larutan D! (10 %)
10.Seorang mahasiswa mengukur kerapatan dan bobot jenis suatu larutan E pada suhu 23 oC (dtaq = 0,9975 gram/mL) dengan menggunakan neraca Westphal. Untuk membuat neraca seimbang, dibutuhkan anting I pada skala 7, anting III pada skala 1, 2 dan 4, serta anting IV pada skala 3. Tentukan kerapatan dan bobot jenis larutan E! (10 %)
Cari MSDS metanol dan gliserol
Tiap nomor yang tidak dikerjakan dikenakan minus 10 % pada nilai keterampilan

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA KELOMPOK 5 DAN 6 PERCOBAAN 1 PENENTUAN KERAPATAN DAN BOBOT JENIS Senin, 27 Pebruari 2012

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA
KELOMPOK 5 DAN 6
PERCOBAAN 1 PENENTUAN KERAPATAN DAN BOBOT JENIS
Senin, 27 Pebruari 2012

1.Apa perbedaan mendasar antara kerapatan dan bobot jenis? (10 %)
2.Apa perbedaan mendasar antara berat dan massa? (7 %)
3.Jelaskan pengertian presisi dan akurasi di dalam pengukuran! (7 %)
4.Neraca Westphal dan piknometer adalah salah satu contoh alat yang sering digunakan untuk pengukuran kerapatan dan bobot jenis suatu bahan. Apakah kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh masing-masing alat tersebut dalam pengukuran kerapatan dan bobot jenis? (16 %)
5.Gambarlah neraca Westphal dan piknometer lengkap dengan keterangan bagian alatnya beserta dengan fungsi bagian-bagian alat tersebut! (16 %)
6.Tuliskan dimensi dan satuan dari besaran kerapatan dan bobot jenis! (8 %)
7.Apakah kerapatan dan bobot jenis termasuk besaran intensif atau ekstensif? Jelaskan! (6 %)
8.Seorang mahasiswa ingin menentukan densitas gliserol dengan menggunakan neraca Westphal. Diketahui massa anting 1 = 0,5 gram, massa anting II = 0,05 gram, massa anting III = 0,005 gram, dan massa anting IV = 0,0005 gram. Pada lengan neraca Westphal, terdapat skala 1 – 9 sedangkan penyelam pada neraca Westphal ekivalen dengan skala 10 pada lengan neraca Westphal. Jarak antara skala pada lengan neraca sebesar 1 cm dan volume gliserol yang dipindahkan ketika penyelam dicelupkan ke dalam larutan adalah 25 mL. Untuk setimbang, dibutuhkan anting I pada skala 2, 8, dan 9, anting II pada skala 4, anting III pada skala 7, dan anting IV pada skala 1. Jika dianggap percepatan gravitasi adalah 10 m/s2, berapakah densitas gliserol? (6 %)
9.Suatu larutan K ingin ditentukan densitas dan gravitas spesifiknya dengan menggunakan piknometer. Diperoleh data sebagai berikut :
No..Nama Cnth...Bbt Piknometer Ksng (g)...Bbt Piknometer+Cnth (g)..........Suhu(oC)
1...Akuades.....................41,1144.....................66,0517..............................23,2
2...........K..........................41,1144.....................67,1268..............................29
Jika diketahui dtaq (23,2 oC) = 0,9975 gram/mL dan dtaq (29 oC) = 0,9959 gram/mL, tentukan densitas dan gravitas spesifik dari larutan K! (12 %)
10.Seorang mahasiswa mengukur kerapatan dan bobot jenis suatu larutan L pada suhu 25,5 oC (dtaq = 0,9969 gram/mL) dengan menggunakan neraca Westphal. Untuk membuat neraca seimbang, dibutuhkan anting I pada skala 8, anting II pada skala 4, anting III pada skala 2 dan 6, serta anting IV pada skala 9. Tentukan kerapatan dan bobot jenis larutan L! (12 %)
Cari MSDS gliserol dan kloroform
Tiap nomor yang tidak dikerjakan dikenakan minus 10 % pada nilai keterampilan

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA KELOMPOK 7 DAN 8 PERCOBAAN 1 PENENTUAN KERAPATAN DAN BOBOT JENIS Senin, 20 Pebruari 2012

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA
KELOMPOK 7 DAN 8
PERCOBAAN 1 PENENTUAN KERAPATAN DAN BOBOT JENIS
Senin, 20 Pebruari 2012

1.Apa perbedaan mendasar antara kerapatan dan bobot jenis? (10 %)
2.Apa perbedaan mendasar antara larutan dan cairan? (7 %)
3.Jelaskan pengertian presisi dan akurasi di dalam pengukuran! (7 %)
4.Neraca Westphal dan piknometer adalah salah satu contoh alat yang sering digunakan untuk pengukuran kerapatan dan bobot jenis suatu bahan. Apakah kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh masing-masing alat tersebut dalam pengukuran kerapatan dan bobot jenis? (16 %)
5.Gambarlah neraca Westphal dan piknometer lengkap dengan keterangan bagian alatnya beserta dengan fungsi bagian-bagian alat tersebut! (16 %)
6.Tuliskan dimensi dan satuan dari besaran kerapatan dan bobot jenis! (8 %)
7.Apa pentingnya satuan dicantumkan dalam setiap pengukuran maupun perhitungan? (6 %)
8.Pada suhu 27 oC, suatu zat Y bervolume 25 mL bermassa 40,0552 gram. Pada volume yang sama, zat ini berbobot 40,6917 gram pada suhu 4 oC. jika pada suhu 4 oC air yang bervolume 25 mL berbobot 25,0000 gram dan pada suhu 27 oC berbobot 24,9129 gram, maka tentukan nilai kerapatan, bobot jenis, dan dtaq zat Y tesebut! (7 %)
9.Suatu larutan glukosa 6 % (b/b) ingin ditentukan densitas dan gravitas spesifiknya dengan menggunakan piknometer. Diperoleh data sebagai berikut :
No..Nama Contoh...Bbt Piknometer Ksng(g)...Bbt Piknometer+Cnth(g)......Suhu (oC)
1...Akuades...........................41,1144............................66,0594....................22
2...Glukosa...........................41,1144............................66,8542....................20
Jika diketahui dtaq (22 oC) = 0,9978 gram/mL dan dtaq (20 oC) = 0,9982 gram/mL, tentukan
a.Densitas dan gravitas spesifik glukosa tersebut (10 %)
b.Jika massa molekul relatif glukosa adalah 180 gram/mol, maka tentukan kemolaran dan kemolalan glukosa tersebut! (3 %)
c.Nyatakan bobot jenis larutan glukosa tersebut ke dalam derajat brix! (2 %)
10.Seorang mahasiswa mengukur kerapatan dan bobot jenis suatu larutan X pada suhu 28 oC (dtaq = 0,9962 gram/mL) dengan menggunakan neraca Westphal. Untuk membuat neraca seimbang, dibutuhkan anting I pada skala 5, 7 dan 8, anting III pada skala 6 dan 9, serta anting IV pada skala 2. Tentukan kerapatan dan bobot jenis larutan X! (8 %)
Cari MSDS gliserol dan aseton
Tiap nomor yang tidak dikerjakan dikenakan minus 10 % pada nilai keterampilan

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA KELOMPOK 1 DAN 2 PERCOBAAN 1 PENENTUAN KERAPATAN DAN BOBOT JENIS Senin, 13 Pebruari 2012

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA
KELOMPOK 1 DAN 2
PERCOBAAN 1 PENENTUAN KERAPATAN DAN BOBOT JENIS
Senin, 13 Pebruari 2012

1.Apa perbedaan mendasar antara kerapatan dan bobot jenis? (10 %)
2.Sebenarnya, mengapa kita perlu untuk menentukan kerapatan dan bobot jenis suatu larutan atau dengan kata lain apa manfaat yang diperoleh dengan mengetahui kerapatan dan bobot jenis suatu larutan? (7 %)
3.Dapatkah zat padat ditentukan kerapatan (densitas) dan bobot jenis (gravitas spesifik) nya? Jelaskan mengapa demikian? (7 %)
4.Neraca Westphal dan piknometer adalah salah satu contoh alat yang sering digunakan untuk pengukuran kerapatan dan bobot jenis suatu bahan. Apakah kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh masing-masing alat tersebut dalam pengukuran kerapatan dan bobot jenis? (16 %)
5.Gambarlah neraca Westphal dan piknometer lengkap dengan keterangan bagian alatnya beserta dengan fungsi bagian-bagian alat tersebut! (16 %)
6.Tuliskan dimensi dan satuan dari besaran kerapatan dan bobot jenis! (8 %)
7.Apa pentingnya satuan dicantumkan dalam setiap pengukuran maupun perhitungan? (6 %)
8.Pada suhu 25 oC, suatu zat X bervolume 25 mL bermassa 28,2660 gram. Pada volume yang sama, zat ini berbobot 28,2811 gram pada suhu 4 oC. jika pada suhu 4 oC air yang bervolume 25 mL berbobot 25,0000 gram dan pada suhu 25 oC berbobot 24,9250 gram, maka tentukan nilai kerapatan, bobot jenis, dan dtaq zat X tesebut! (Catatan :Kunci untuk menyelesaikan soal ini adalah pahami defenisi kerapatan, bobot jenis, dan dtaq dengan baik) (7 %)
9.Suatu asam sulfat pekat ingin ditentukan densitas dan gravitas spesifiknya dengan menggunakan piknometer. Diperoleh data sebagai berikut :
No..Nama Cnth..Bbt Piknometer Kosong(g)..Bbt Piknometer + Cnth(g)..Suhu (oC)
1..Akuades....................41,1144.........................66,0594......................22
2..H2SO4 pekat................41,1144.........................87,1744......................27
Jika diketahui dtaq (22 oC) = 0,9978 gram/mL dan dtaq (27 oC) = 0,9965 gram/mL, tentukan
a.Densitas dan gravitas spesifik H2SO4 pekat (10 %)
b.Jika kemolaran H2SO4 pekat itu adalah 18,0 M di mana massa molekul relatif H2SO4 adalah 98,08 gram/mol, maka tentukan persentasi (b/b) kemurnian asam sulfat pekat tersebut! (3 %)
c.Nyatakan bobot jenis asam sulfat tersebut ke dalam derajat beume! (2 %)
10.Seorang mahasiswa mengukur kerapatan dan bobot jenis suatu larutan X pada suhu 26 oC (dtaq = 0,9968 gram/mL) dengan menggunakan neraca Westphal. Untuk membuat neraca seimbang, dibutuhkan anting I pada skala 2 dan 3, anting II pada skala 7, anting III pada skala 5, serta anting IV pada skala 1 dan 6. Tentukan kerapatan dan bobot jenis larutan X! (8 %)
Cari MSDS metanol dan kloroform
Tiap nomor yang tidak dikerjakan dikenakan minus 10 % pada nilai keterampilan

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR KELOMPOK 9 PERCOBAAN 5 LAJU REAKSI Selasa, 29 NOPEMBER 2011

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR
KELOMPOK 9
PERCOBAAN 5 LAJU REAKSI
Selasa, 29 NOPEMBER 2011

1.Apa yang dimaksud dengan laju reaksi! (5 %)
2.Tuliskan dan jelaskan 5 faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi! (10 %)
3.Pernahkah Anda mendengar tentang orde semu? Jelaskan apa yang Anda ketahui mengenai orde semu dan jelaskan perbedaannya dengan orde reaksi! (5 %)
4.a. Apa yang dimaksud dengan koordinat reaksi? (5 %)
b.Pada koordinat reaksi terdapat keadaan transisi dan keadaan intermediet. Jelaskan apa yang dimaksud dengan keadaan transisi dan keadaan intermediet serta pada keadaan yang mana di antara keduanya yang dapat ditemukan reaksi antara yang dapat diisolasi? (5 %)
5.Sebanyak 5 mL H2SO4 0,1 M disiapkan. Pada saat yang sama dipipet berturut-turut 1 mL, 2 mL, 3 mL, 4 mL, dan 5 mL natrium tiosulfat yang berturut-turut pada tabung reaksi 1-5 lalu diencerkan dengan akuades hingga masing-masingnya bervolume 5 mL. Pada larutan yang terdapat pada kelima tabung reaksi tersebut masing-masing dicampurkan dengan H2SO4 0,1 M sebanyak 5 mL. Setelah beberapa saat, timbul kekeruhan pada hasil pencampuran kedua senyawa tersebut. Secara berturut-turut, waktu yang dibutuhkan oleh pencampuran kedua reaktan menimbulkan kekeruhan mulai dari tabung reaksi 1-5 adalah 23,7 s; 32,5 s; 41,1 s; 60,0 s; dan 93,2 s. Tentukan dengan rumus manual (tidak pakai program laptop maupun program kalkulator):
a.Konsentrasi Na2S2O3 dan H2SO4 dalam M sesaat setelah pencampuran kedua reaktan pada masing-masing tabung reaksi (2,5 %)
b.1/t dalam s-1 pada masing-masing reaksi di dalam tabung reaksi (2,5 %)
c.Log 1/t dan log [Na2S2O3] (2,5 %)
d.Slope dan intercept pada grafik log [Na2S2O3] vs Log 1/t (2,5 %)
e.Orde reaksi dan tetapan laju reaksi (5 %)
f.Tetapan kelurusan grafik (R2) (5 %)
g.Persamaan laju reaksinya (5 %)
6.Selanjutnya, dilakukan lagi percobaan tetapi yang kali ini diamati adalah bukan pengaruh konsentrasi reaktan, tetapi pengaruh suhu. Pada percobaan ini, sebanyak 5 mL Na2S2O3 0,1 M direaksikan dengan H2SO4 0,1 M di tiga tempat yang berbeda. Pertama, yakni di dalam air es yang bersuhu 10 oC, kedua, yakni pada suhu kamar yang bersuhu 29 oC, serta pada air panas yang bersuhu 70 oC. Diperoleh data waktu timbulnya kekeruhan pada pencampuran kedua reaktan pada ketiga keadaan tersebut adalah berturut-turut 200,1 s, 28,1 s, dan 0,9 s. Tentukan pula dengan rumus manual (tidak pakai program laptop maupun program kalkulator):
a.Konsentrasi Na2S2O3 dan H2SO4 dalam M sesaat setelah pencampuran kedua reaktan (2,5 %)
b.1/t dalam s-1 dan 1/T dalam K-1 (2,5 %)
c.ln 1/t (2,5 %)
d.Slope dan intercept pada grafik 1/T vs ln 1/t (2,5 %)
e.Energi aktivasi dan tetapan Arhenius (5 %)
f.Tetapan kelurusan grafik (R2) (5 %)
g.Persamaan laju reaksinya (5 %)
7.Tuliskan reaksi natrium tiosulfat terhadap asam sulfat! (10 %)
8.Apa yang menyebabkan timbulnya kekeruhan pada hasil reaksi kedua reaktan di atas! (10 %)
Catatan : Respon hari selasa, 29 Nopember 2011 pukul 9.50-10.20 di taman kreatif. Soalnya 8 nomor dengan rincian 2 nomor tentang prosedur, tujuan, MSDS, fungsi alat, atau fungsi bahan, 5 nomor soal TP, dan 1 nomor soal dadakan. TP diberi sampul kuning dan diketik manual dengan rapi dengan menggunakan kertas A4s yang bergaris pinggir margin 4,3,3,3. Tidak rapi maka diminus 90 % nilainya. Adapun mengenai format sampul, dapat ditanyakan ke kakak-kakak seniornya bagaimana yang sebelum-sebelumnya.

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA KELOMPOK 3 DAN 4 PERCOBAAN 5 PENENTUAN VISKOSITAS CAIRAN Kamis, 8 Desember 2011

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA
KELOMPOK 3 DAN 4
PERCOBAAN 5 PENENTUAN VISKOSITAS CAIRAN
Kamis, 8 Desember 2011

1.Jelaskan pengertian viskositas! (10 %)
2.Jelaskan minimal 5 faktor yang mempengaruhi viskositas! (10 %)
3.Apakah viskositas termasuk besaran ekstensif atau intensif? Jelaskan jawaban saudara! (5 %)
4.Kapan suatu cairan dapat dikatakan memiliki viskositas sama dengan nol? Jelaskan mengapa demikian! (10 %)
5.Apa yang menyebabkan sehingga sangat jarang bahkan hampir tidak ada fluida yang memiliki viskositas nol yang dapat kita temui? (10 %)
6.Apa manfaat adanya sifat viskositas cairan bagi kehidupan? (5 %)
7.Mengapa viskositas di permukaan cairan selalu lebih besar daripada viskositas cairan yang tidak terletak di permukaan? (10 %)
8.Tekanan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi nilai viskositas. Apakah jika nilai viskositas sama dengan nol, maka tekanan juga akan nol atau dengan kata lain cairan tidak akan memberikan tekanan? Jelaskan jawaban Saudara! (10 %)
9.Diketahui bobot piknometer kosong bervolume 25 mL adalah 40,1084 gram. Jika piknometer diisi dengan akuades (suhu akuades = 25 oC, dtaq (25 oC) = 0,9970 gram/cm3)sampai penuh, maka bobot akuades + piknometer adalah 65,0334 gram. Jika piknometer diisi dengan gliserol 2 % (suhu 30 oC, dtaq = 0,9957 g/cm3) sampai penuh, maka bobot gliserol 2 % + piknometer = 65,3865 gram. Ketika akuades dialirkan ke dalam viskometer Ostwald, dibutuhkan waktu rata-rata selama 65 s bagi akudes untuk lewat dari batas atas ke batas bawah. Sementara ketika gliserol 2 % dialirkan ke dalam viskometer Ostwald, dibutuhkan waktu rata-rata selama 68 s bagi gliserol 2 % untuk lewat dari batas atas ke batas bawah. Bila diketahui viskositas air pada suhu 25 oC adalah 0,8937 cP, maka tentukan nilai viskositas dari gliserol 2 % tersebut! (20 %)
10.Sampel E ingin diketahui konsentrasinya dengan jalan membandingkan nilai viskositasnya dengan larutan standar A-D yang telah diketahui konsentrasinya. Setelah melalui serangkaian percobaan seperti yang ada pada penuntun kalian diperoleh data seperti di bawah ini :
No..Sampel.....Konsentrasi (%) [X]......Viskositas (y) [cP]
1........A.....................2............................0,9152
2........B.....................4............................1,0155
3........C.....................6............................1,3263
4........D.....................8............................1,4500
5........E.....................?............................1,3456
Tentukan konsentrasi larutan sampel E! (10 %)
Catatan : Cari MSDS gliserol

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA KELOMPOK 5 DAN 6 PERCOBAAN 5 PENENTUAN VISKOSITAS CAIRAN Kamis, 1 Desember 2011

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA
KELOMPOK 5 DAN 6
PERCOBAAN 5 PENENTUAN VISKOSITAS CAIRAN
Kamis, 1 Desember 2011

1.Jelaskan pengertian viskositas! (10 %)
2.Jelaskan minimal 5 faktor yang mempengaruhi viskositas! (10 %)
3.Gambarlah viskometer Ostwald lengkap dengan keterangan gambar beserta penjelasan dari tiap-tiap keterangan gambar tersebut! (10 %)
4.Apakah viskositas termasuk besaran ekstensif atau intensif? Jelaskan jawaban saudara! (5 %)
5.Kapan suatu cairan dapat dikatakan memiliki viskositas sama dengan nol? Jelaskan mengapa demikian! (10 %)
6.Apa yang menyebabkan sehingga sangat jarang bahkan hampir tidak ada fluida yang memiliki viskositas nol yang dapat kita temui? (10 %)
7.Apa manfaat adanya sifat viskositas cairan bagi kehidupan? (5 %)
8.Bagaimana menurut Anda tentang viskositas padatan? Jelaskan! (10 %)
9.Diketahui bobot piknometer kosong bervolume 25 mL adalah 40,1084 gram. Jika piknometer diisi dengan akuades (suhu akuades = 25 oC, dtaq (25 oC) = 0,9970 gram/cm3)sampai penuh, maka bobot akuades + piknometer adalah 65,0334 gram. Jika piknometer diisi dengan gliserol 9 % (suhu 29 oC, dtaq = 0,9959 g/cm3) sampai penuh, maka bobot gliserol 9 % + piknometer = 66,1308 gram. Ketika akuades dialirkan ke dalam viskometer Ostwald, dibutuhkan waktu rata-rata selama 65 s bagi akudes untuk lewat dari batas atas ke batas bawah. Sementara ketika gliserol 9 % dialirkan ke dalam viskometer Ostwald, dibutuhkan waktu rata-rata selama 116 s bagi gliserol 9 % untuk lewat dari batas atas ke batas bawah. Bila diketahui viskositas air pada suhu 25 oC adalah 0,8937 cP, maka tentukan nilai viskositas dari gliserol 9 % tersebut! (20 %)
10.Sampel E ingin diketahui konsentrasinya dengan jalan membandingkan nilai viskositasnya dengan larutan standar A-D yang telah diketahui konsentrasinya. Setelah melalui serangkaian percobaan seperti yang ada pada penuntun kalian diperoleh data seperti di bawah ini :
No..Sampel.....Konsentrasi (%) [X].......Viskositas (y) [cP]
1.......A...................2...............................0,9232
2.......B...................4...............................1,0352
3.......C...................6...............................1,1567
4.......D...................8...............................1,3020
5.......E...................?...............................0,9998
Tentukan konsentrasi larutan sampel E! (10 %)
Catatan : Cari MSDS gliserol

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR KELOMPOK 1 PERCOBAAN 5 LAJU REAKSI Selasa, 22 NOPEMBER 2011

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR
KELOMPOK 1
PERCOBAAN 5 LAJU REAKSI
Selasa, 22 NOPEMBER 2011

1.Apa yang dimaksud dengan laju reaksi! (5 %)
2.Tuliskan dan jelaskan 5 faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi! (10 %)
3.Pernahkah Anda mendengar tentang orde semu? Jelaskan apa yang Anda ketahui mengenai orde semu! (5 %)
4.a. Apa yang dimaksud dengan koordinat reaksi? (5 %)
b.Pada koordinat reaksi terdapat keadaan transisi dan keadaan intermediet. Jelaskan apa yang dimaksud dengan keadaan transisi dan keadaan intermediet serta pada keadaan yang mana di antara keduanya yang dapat ditemukan reaksi antara yang dapat diisolasi? (5 %)
5.Sebanyak 5 mL H2SO4 0,1 M disiapkan. Pada saat yang sama dipipet berturut-turut 1 mL, 2 mL, 3 mL, 4 mL, dan 5 mL natrium tiosulfat yang berturut-turut pada tabung reaksi 1-5 lalu diencerkan dengan akuades hingga masing-masingnya bervolume 5 mL. Pada larutan yang terdapat pada kelima tabung reaksi tersebut masing-masing dicampurkan dengan H2SO4 0,1 M sebanyak 5 mL. Setelah beberapa saat, timbul kekeruhan pada hasil pencampuran kedua senyawa tersebut. Secara berturut-turut, waktu yang dibutuhkan oleh pencampuran kedua reaktan menimbulkan kekeruhan mulai dari tabung reaksi 1-5 adalah 24,8 s; 30,7 s; 39,8 s; 68,3 s; dan 112,8 s. Tentukan dengan rumus manual (tidak pakai program laptop maupun program kalkulator):
a.Konsentrasi Na2S2O3 dan H2SO4 dalam M sesaat setelah pencampuran kedua reaktan pada masing-masing tabung reaksi (2,5 %)
b.1/t dalam s-1 pada masing-masing reaksi di dalam tabung reaksi (2,5 %)
c.Log 1/t dan log [Na2S2O3] (2,5 %)
d.Slope dan intercept pada grafik log [Na2S2O3] vs Log 1/t (2,5 %)
e.Orde reaksi dan tetapan laju reaksi (5 %)
f.Tetapan kelurusan grafik (R2) (5 %)
g.Persamaan laju reaksinya (5 %)
6.Selanjutnya, dilakukan lagi percobaan tetapi yang kali ini diamati adalah bukan pengaruh konsentrasi reaktan, tetapi pengaruh suhu. Pada percobaan ini, sebanyak 5 mL Na2S2O3 0,1 M direaksikan dengan H2SO4 0,1 M di tiga tempat yang berbeda. Pertama, yakni di dalam air es yang bersuhu 10 oC, kedua, yakni pada suhu kamar yang bersuhu 29 oC, serta pada air panas yang bersuhu 70 oC. Diperoleh data waktu timbulnya kekeruhan pada pencampuran kedua reaktan pada ketiga keadaan tersebut adalah berturut-turut 192,9 s, 54,6 s, dan 1,8 s. Tentukan pula dengan rumus manual (tidak pakai program laptop maupun program kalkulator):
a.Konsentrasi Na2S2O3 dan H2SO4 dalam M sesaat setelah pencampuran kedua reaktan (2,5 %)
b.1/t dalam s-1 dan 1/T dalam K-1 (2,5 %)
c.Log 1/t dan log 1/T (2,5 %)
d.Slope dan intercept pada grafik log 1/T vs Log 1/t (2,5 %)
e.Energi aktivasi dan tetapan Arhenius (5 %)
f.Tetapan kelurusan grafik (R2) (5 %)
g.Persamaan laju reaksinya (5 %)
7.Tuliskan reaksi natrium tiosulfat terhadap asam sulfat! (10 %)
8.Apa yang menyebabkan timbulnya kekeruhan pada hasil reaksi kedua reaktan di atas! (10 %)
Catatan : Respon hari sabtu, 22 Nopember 2011 pukul 9.50-10.20 di taman kreatif. Soalnya 6 nomor dengan rincian 2 nomor tentang prosedur, tujuan, MSDS, fungsi alat, atau fungsi bahan, 3 nomor soal TP, dan 1 nomor soal dadakan. TP diberi sampul kuning dengan dan ditulis tangan dengan rapi dengan menggunakan kertas A4s yang bergaris pinggir margin 4,3,3,3. Tidak rapi maka diminus 90 % nilainya. Adapun mengenai format sampul, dapat ditanyakan ke kakak-kakak seniornya bagaimana yang sebelum-sebelumnya.

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA KELOMPOK 7 DAN 8 PERCOBAAN 5 PENENTUAN VISKOSITAS CAIRAN Kamis, 17 Nopember 2011

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA
KELOMPOK 7 DAN 8
PERCOBAAN 5 PENENTUAN VISKOSITAS CAIRAN
Kamis, 17 Nopember 2011

1.Jelaskan pengertian viskositas! (10 %)
2.Jelaskan minimal 5 faktor yang mempengaruhi viskositas! (15 %)
3.Gambarlah viskometer Ostwald lengkap dengan keterangan gambar beserta penjelasan dari tiap-tiap keterangan gambar tersebut! (10 %)
4.Apakah viskositas termasuk besaran ekstensif atau intensif? Jelaskan jawaban saudara! (5 %)
5.Kapan suatu cairan dapat dikatakan memiliki viskositas sama dengan nol? Jelaskan mengapa demikian! (10 %)
6.Apa yang menyebabkan sehingga sangat jarang bahkan hampir tidak ada fluida yang memiliki viskositas nol yang dapat kita temui? (10 %)
7.Apa manfaat adanya sifat viskositas cairan bagi kehidupan? (10 %)
8.Bagaimana menurut Anda tentang viskositas padatan? Jelaskan! (10 %)
9.Sampel E ingin diketahui konsentrasinya dengan jalan membandingkan nilai viskositasnya dengan larutan standar A-D yang telah diketahui konsentrasinya. Setelah melalui serangkaian percobaan seperti yang ada pada penuntun kalian diperoleh data seperti di bawah ini :
No....Sampel.......Konsentrasi (%) [X].......Viskositas (y) [cP]
1..........A..........................2..........................0,8351
2..........B..........................4..........................0,9980
3..........C..........................6..........................1,1234
4..........D..........................8..........................1,2369
5..........E..........................?..........................0,9985
Tentukan konsentrasi larutan sampel E! (20 %)
Catatan : Cari MSDS gliserol
Aturan seperti biasa

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR KELOMPOK 12 PERCOBAAN 2 SIFAT-SIFAT UNSUR Selasa, 15 Nopember 2011

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR
KELOMPOK 12
PERCOBAAN 2 SIFAT-SIFAT UNSUR
Selasa, 15 Nopember 2011

1.Apa yang dimaksud dengan unsur serta apa perbedaannya dengan atom dan senyawa? (15 %)
2.Mengapa setiap unsur memiliki sifat yang berbeda-beda? (15 %)
3.Apa ciri-ciri yang menandakan bahwa suatu senyawa mengalami reaksi kimia? (5 %)
4.Tuliskan masing-masing 5 karakteristik alkali dan alkali tanah! (20 %)
5.Mengapa ketika larutan yang berasal dari hasil reaksi logam alkali/alkali tanah dengan air diteteskan indikator pp, terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah keunguan? (5 %)
6.Buat tulisan minimal 1 halaman full dan maksimal 2 halaman dengan pilihan tema : (40 %)
a.Galium dan germanium
b.Mendelevium dan Nobelium
c.Nikel dan Praseodimium
d.Kobalt dan Tulium
e.Osmium dan Platinum
f.Wolfram dan Iridium
g.Rutenium dan Rutherfordium
h.Titanium dan Vanadium
i.Argentum dan Europium
j.Aurum dan Erbium
k.Teknesium dan Tantalum
l.Talium dan Astatin
m.Stannum dan Protaktinium
n.Yetrium dan Serium
o.Zink dan Einstenium
p.Kadmium dan Neptunium
q.Niobium dan Osmium
r.Uranium dan Plutonium
Setiap praktikan hanya dibolehkan mengerjakan 1 judul di antara 18 pilihan yang tersedia dan tiap-tiap judul hanya diperbolehkan untuk diambil oleh 1 praktikan saja.
Catatan : Respon hari selasa, 15 Nopember 2011 pukul 9.50-10.20 di taman kreatif. Soalnya 6 nomor dengan rincian 2 nomor tentang prosedur, maksud, tujuan, MSDS, fungsi alat, atau fungsi bahan, 3 nomor soal TP, dan 1 nomor soal dadakan. TP diberi sampul kuning dengan menggunakan kertas A4s yang bergaris pinggir dengan margin 4,3,3,3. Adapun mengenai format sampul, dapat ditanyakan ke kakak-kakak seniornya bagaimana yang sebelum-sebelumnya. TP diketik manual termasuk yang nomor 6.

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR KELOMPOK 16 PERCOBAAN 2 SIFAT-SIFAT UNSUR Selasa, 1 Nopember 2011

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR
KELOMPOK 16
PERCOBAAN 2 SIFAT-SIFAT UNSUR
Selasa, 1 Nopember 2011

1.Apa yang dimaksud dengan unsur? (10 %)
2.Apa ciri-ciri yang menandakan bahwa suatu senyawa mengalami reaksi kimia? (5 %)
3.Apa perbedaan mendasar antara :
a.Unsur logam dengan senyawa-senyawa kimia lain? (8 %)
b.Unsur logam golongan alkali dan alkali tanah dengan unsur-unsur logam di golongan lain seperti di golongan transisi dan di golongan p (IIIA-VIIIA)? (8 %)
c.Unsur logam golongan alkali dengan logam alkali tanah? (8 %)
4.Bagaimana reaktivitas Li, Mg, Ca, Na, Rb, dan Sr terhadap H2O? (6 %)
5.Mengapa ketika larutan yang berasal dari hasil reaksi logam alkali/alkali tanah dengan air diteteskan indikator pp, terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah keunguan? (5 %)
6.Sebutkan 3 jenis benda yang ada di muka bumi ini yang bukan merupakan zat kimia! Jelaskan! (10 %)
7.Buat tulisan minimal 2 halaman dan maksimal 3 halaman dengan pilihan tema : (40 %)
a.Karakteristik golongan alkali
b.Karakteristik golongan alkali tanah
c.Pemanfaatan fransium sebagai zat radioaktif
d.Pemanfaatan radium sebagai zat radioaktif
e.Tren tabel periodik
f.Peroksida dan superoksida
g.Natrium dan kaitannya dengan fungsi fisiologis tubuh
h.Penggunaan unsur-unsur golongan alkali dan alkali tanah di dunia medik
i.Hidrogen, deuterium, dan tritium
Setiap praktikan hanya dibolehkan mengerjakan 1 judul di antara 9 pilihan yang tersedia dan tiap-tiap judul hanya diperbolehkan untuk diambil maksium oleh 2 praktikan saja serta isi tulisan tidak boleh sama dan kesembilan judul masing-masing wajib ada praktikan yang mengerjakannya.
Catatan : Respon hari selasa, 1 Nopember 2011 pukul 9.50-10.20 di taman kreatif. Soalnya 6 nomor dengan rincian 2 nomor tentang prosedur, maksud, tujuan, MSDS, fungsi alat, atau fungsi bahan, 3 nomor soal TP, dan 1 nomor soal dadakan. TP diberi sampul kuning dengan menggunakan kertas A4s yang bergaris pinggir dengan margin 4,3,3,3. Adapun mengenai format sampul, dapat ditanyakan ke kakak-kakak seniornya bagaimana yang sebelum-sebelumnya. TP diketik manual termasuk yang nomor 7.
Powered by Blogger